Penulis: Subhan Hardi

Rumah kontrakan di bilangan Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang Selatan tampak lapuk termakan usia. Sejak tahun 2012, rumah yang terlihat tidak terawat diantara gang sempit ini, digunakan dan ditempati sebagai rumah belajar membaca Al-Qur’an bagi penyandang disabilitas (tunanetra). Setiap hari Senin, dalam sepekan ayat-ayat Allah itu dilantunkan dengan suara yang terdengar sayup dari dalam. Di sinilah, sedikitnya 23 orang ikut belajar membaca dan menghafal dengan menggunakan Al-Qur’an braille. Mereka begitu penuh semangat mempelajari huruf dan tajwid Al-Qur’an di tengah segala keterbatasan yang dihadapi. Dimana dunia terasa gelap dengan seluruh isinya.

Hanya dengan gerakan tangan saja yang bisa dilakukan. Meraba dan menyentuh satu demi satu huruf timbul dalam mushaf yang terbilang ‘istimewa,’ kalam Allah itu pun mengalir dari bacaan dan suara mereka dengan kekuatan hati yang menyertainya. Ya, kekuatan yang mampu membawa para penyandang disabilitas ini, terus meyakini bahwa apa yang dilakukan adalah kemuliaan, keberkahan dan merupakan amalan saleh yang kelak menjadi bekal setelah kematian. Di tengah sebagian kaum muslimin merasa tidak punya waktu untuk membaca Al-Qur’an, meski di dalamnya terdapat keutamaan dan pahala yang besar.

Nursalim 58 tahun (kiri- mengenakan kemeja hijau) dan Ustadz Ari Komarudin 52 tahun (kanan- pengajar) di Rumah Qur’an Nurul Qolbi 1 adalah dua diantara penuntut ilmu Al-Qur’an. Hingga saat ini masih terus teguh dan menjadikan aktivitas mereka sebagai media belajar yang difasilitasi oleh Yayasan Sahabat Tuna Netra Nurul Qolbi. Sekali lagi, meski semuanya terlihat sangat terbatas. Namun, semangat mereka tak pernah lekang untuk terus membaca dan mempelajari Al-Qur’an dalam 12 tahun lebih perjalanannya. Ustadz Ari, mengatakan beberapa hal yang dihadapinya saat ini dalam mengajar adalah kurangnya istiqamah bagi teman tunanetra dalam belajar. Sehingga kerap pesertanya menjadi berkurang. “Jadi seperti shift-shift-an,” ujarnya.
Kendala ini karena; banyak diantara jama’ahnya yang sudah tua, terhambat cuaca saat ingin pergi belajar dari rumah yang jaraknya cukup jauh dan menyebar- masalah biaya transpor yang terbatas, karena mereka juga harus mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama keluarga dengan berjualan kerupuk, memijat dan ada yang menjual jasa suara dengan mengamen. “Kalau ditanya harapan saya, pengennya ada donatur tetap. Mungkin kelas ‘kakap’ ya, yang memberikan fasilitas tempat karena kami sudah lebih 12 tahun mengontrak. Tentunya ini sangat membantu dan memudahkan kami untuk terus belajar,” ungkap Ustadz Ari yang sudah kehilangan penglihatan sejak masa kanak-kanak dengan suara lirih, sembari terus mendoakan kepada donatur yang selama ini terus mendukung senantiasa diberikan keberkahan harta dan rezeki.

Kamis, 14 Agustus 2025, saat HSI BERBAGI menyambangi Rumah Qur’an Nurul Qobi 1 di kawasan Pondok Cabe ini, suasana terasa hangat. Meski, penghuninya terbatas penglihatan, tak ada sekat yang menghalangi sahabat tunanetra untuk bercerita, menyampaikan pengalaman hidup, dan kerinduan untuk melihat layaknya orang- orang yang dikaruniakan dapat melihat keindahan semesta. Namun, takdir berkata lain. Mereka, hanya bisa ikhlas menjalani aktivitas dan keseharian dalam kegelapan. Berharap, ada keberkahan dan amalan kebaikan yang diraih.
“Kami sangat senang dapat berkunjung dan berkumpul di sini, selain silaturahmi tentunya. Masyaallah, bangga, ada rumah tahfidz yang menampung untuk media belajar membaca Al-Qur’an braille dan menghafalkannya. Kegiatan yang sangat mulia di sisi Allah Subhanahuwata’ala,” ujar Ketua Divisi HSI BERBAGI Mujiman Abu Ibrahim di kesempatan tersebut. Mujiman mengatakan, kehadiran HSI BERBAGI juga ingin melihat secara langsung aktivitas yang dilakukan. Dirinya berharap, semoga bisa berkoordinasi dan kolaborasi dalam kebaikan dengan program yang dijalankan.

Mujiman Abu Ibrahim (kiri) bersama Ustadz Dedi Hendrawan, Staf Operasional dan Sekretariat Yayasan Sahabat Tuna Netra Nurul Qolbi saat foto bersama di office; Jl. Karang Tengah I No. 32 RT3/ RW8 Kelurahan Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan.
Yayasan Sahabat Tuna Netra Nurul Qolbi sendiri adalah lembaga sosial yang sedang berjuang menjembatani program belajar membaca, memahami, mempelajari kandungan, juga menghafal Al-Qur’an dengan metodologi Qur’an braille bagi para dhuafa penyandang cacat tunanetra. Nurul Qolbi berupaya untuk tetap berdiri, mengembangkan diri dalam memberikan pelayanan dan pendampingan, juga membantu tunanetra yang mungkin sebagian orang memandang sebelah mata tentang keberadaan dan keinginan mereka untuk mendapatkan kesempatan yang sama, khususnya memperdalam ilmu agama yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadist. “Alhamdulillah, saat ini Rumah Qur’an Nurul Qolbi sudah tersebar di 27 wilayah di Indonesia. Menyebar di Jabodetabek, Jawa Barat, seperti Cirebon, Ciamis, Tasikmalaya, Kuningan, dan Jawa Tengah,” ujar Ustadz Dedi kepada hsi.berbagi.id saat ditemui di lokasi.
Saat ini yayasan memiliki empat program yang dijalankan; pertama, kelompok belajar Al-Qur’an braille bagi yang belum bisa belajar. Kedua, dari segi usia peserta yang sudah tua kesulitan dan agak berat dalam belajar, difokuskan kepada hafalan Qur’an. Ketiga, program utama yang merupakan kajian keisIaman, dimana setiap bulan NQ punya kegiatan khotmil Qur’an- membaca Al-Qur’an 30 juz dari setiap cabang NQ yang dilakukan para guru yang sudah lancar membaca Al-Qur’an braille. Setelah sesi khotmil Qur’an, diisi dengan kajian keislaman untuk menambah pengetahuan agama dan keimanan mendatangkan ustadz (narasumber) yang berbeda. Kajian bersifat umum, tak hanya membahas masalah fiqih, tapi juga muamalah. Bagaimana bisa mandiri dalam menghadapi hidup dan sebagai motivasi. Adapun program keempat, merupakan wira usaha, dalam hal ini yayasan memfasilitasi berupa modal dan pendampingan. “Semua program yang ada sudah berjalan, masih banyak kekurangan yang akan kita perbaiki ke depannya. Tentunya, program ini bisa berjalan butuh dukungan dari semua pihak, termasuk para donatur tetap dan para pengurus,” tandas Ustadz Dedi berharap.
Dokumentasi dan foto; Subhan Hardi
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tinggalkan Komentar