Giat Tim HSI BERBAGI di Aceh: Setelah Satu Bulan Berlalu

By: hardi

Subhan- Berita Foto

Sejak 9 Desember 2026, Tim Tanggap Bencana HSI BERBAGI terjun langsung dalam upaya membantu korban bencana banjir bandang dan longsor di Provinsi Aceh akhir Nopember 2025 lalu. Bersama relawan dari berbagai lembaga yang tergabung dalam posko bersama, tim bergerak cepat bahu-membahu mengirimkan logistik. Terutama di wilayah terisolir yang tidak tersentuh bantuan, dengan medan yang cukup sulit dijangkau. Selain menyalurkan logistik, memberikan bantuan langsung bagi penyintas, layanan pengobatan, pembagian sembako, hingga suplai makanan siap saji berupa nasi bungkus terus didistribusikan setiap hari membantu warga terdampak di Aceh Tamiang, memenuhi kebutuhan makanan di tengah tekanan keadaan yang masih porak-poranda di masa pemulihan. Hadirnya tim relawan tanggap bencana HSI BERBAGI, tentunya memberikan suntikan semangat bagi saudara-saudara yang terkena musibah bencana di sana dalam menatap hidup ke depan. Bahkan, kini, setelah satu bulan melalui keadaan yang sulit, kehilangan keluarga, rumah tinggal dan ketikdakpastian yang dihadapi.

Potret menyajikan makanan siap santap yang didistribusikan oleh Tim Tanggap Bencana HSI BERBAGI sinergi dengan lembaga Satda Indonesia, Hidayatunajjah, Dekap, YBM Al Umm, YBIA, Jambi Bersama, As Syamil, dan lembaga kemanusian lainnya menjadi terasa penting dan sangat membantu warga penyintas di sekitar area Masjid Babul Falah, Desa Bukit Tempurung, Kuala Simpang, Aceh Tamiang. Sedikitnya, 1500 porsi makanan (nasi bungkus) yang dibawa dari posko dapur umum diberikan kepada penyintas setiap hari di waktu pagi dan sore, sejak 9 Desember hingga 30 Desember 2025 kemarin. “Makanan siap saji ini sangat meringankan, di tengah keadaan yang belum pulih. Warga di sekitar masjid dan yang melintas di jalanan sudah mengetahui jadwalnya, karena mereka memang sangat membutuhkan,” ujar Sopian Awaludin, Komandan Posko HSI BERBAGI di Aceh Tamiang kepada hsi.berbagi.id saat dihubungi, Rabu (31 Desember 2025)

Kegiatan asesmen terus diupayakan tim HSI BERBAGI di wilayah Aceh Tamiang dan lokasi terisolir lainnya, sebagai bagian dari pendataan awal untuk mengetahui kebutuhan dan bantuan yang sesuai agar dapat didistribusikan cepat kepada para penyintas.

Tim giat bencana HSI BERBAGI bersama Satda Indonesia (24 Desember 2025) melakukan clearing Masjid Baiturrahman, di wilayah terisolir Desa Tanjung Gelumpang, Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang.

Sebagai upaya menghidupkan masjid, perbaikan audio (pengeras suara) juga dilakukan tim giat bencana HSI BERBAGI agar azan dapat berkumandang pertama kali setelah bencana. Sebelumnya, tim menyerahkan 3 set Genset agar tersedianya suplai penerangan di desa tersebut, yang sampai saat ini belum dapat terhubung dengan aliran listrik.

Tim giat bencana HSI BERBAGI juga turut memperbaiki pemasangan instalasi air dengan memberikan bantuan pompa untuk kebutuhan masjid Baiturrahman, di Desa Tanjung Gelumpang.

Layanan pemeriksaan kesehatan bagi warga penyintas juga dilakukan tim HSI BERBAGI bersama lembaga yang tergabung dalam posko bersama. Melibatkan relawan medis tim dokter Bengkulu, pemeriksaan dilakukan berupa pemberian obat-obatan dan pengobatan bagi warga yang terserang penyakit pasca bencana.

Tim giat bencana menyalurkan logistik ke wilayah Aceh Timur, tepatnya di Desa Pante Kera, Kecamatan Simpang Jernih. Alhamdulillah, dari data yang dihimpun bantuan yang telah diberikan selama masa tanggap darurat berupa; 13.470 makanan siap saji, 862 paket sembako, 540 paket ceria anak, 236 zak beras 5kg, 300 karton air mineral, 452 tray telur, 141 karton mie instan, 800 paket pakaian, 540 paket kelambu, 1.600 pcs lilin, 1.090 pasien obat-obatan dan kesehatan, 50 pcs Al-Qur’an, 753 paket bayi, 399 karton sabun mandi, 151 pcs terpal, 650 alas tidur, 4 unit toren, 448 kompor gas, 11 unit genset, 50 liter BBM, 2 water jet cleaner, 4 karton anti nyamuk, 200 liter hand sanitizer/10 drum, dan 448 regulator. “Aceh masih belum baik-baik saja, butuh dukungan agar segera pulih kehidupannya. Ada ribuan pengungsi di tenda-tenda, wilayah terisolir dan aliran listrik yang belum merata. Kami berharap semua bergerak, baik pemerintah yang telah membantu, seluruh lembaga dan masyarakat ikut peduli. Mari bantu saudara kita di Aceh,” ungkap Sopian menjelaskan kondisi terkini setelah 1 bulan berlalu.

Komentar (1)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *