
Laporan dari Episentrum Gempa NTT: Penyintas di Mbay Bangun Tenda Darurat Secara Mandiri
Leny Hasanah- Tanggap Bencana LAZ HSI BERBAGI

Penyintas di lokasi gempa berlindung di tenda-tenda sederhana. Mereka mendirikan tenda darurat menggunakan terpal di depan halaman rumah atau di area terbuka yang dirasa aman. Foto; Reynoldus Waso/ Dok HSI BERBAGI.
Nusa Tenggara Timur, news.berbagi.id – “Hei keluar, gempa besar! Mana adek, suruh keluar semuanya!” Suara teriakan kepanikan warga tersebut terdengar langsung dari sambungan telepon wawancara bersama Reynoldus Waso, warga Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), saat bumi kembali berguncang akibat gempa susulan pada Senin pagi (17/8/2026).
Guncangan tersebut sempat menghentikan pembicaraan telepon selama beberapa saat, sebelum akhirnya sambungan komunikasi dilanjutkan kembali setelah situasi dirasa aman.
Setelah panggilan berlanjut, Reynoldus menceritakan kondisi terkini di wilayah Nagekeo pascagempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 7,7 yang terjadi pada Sabtu (15/8). Laporan ini dikirimkan langsung kepada https://news.berbagi.id dari Kecamatan Boawae, wilayah terdampak yang berjarak sekitar 37 kilometer dari Mbay, ibu kota Kabupaten Nagekeo.
Kondisi Wilayah di Dekat Pusat Gempa
Mbay merupakan kawasan pesisir sekaligus menjadi titik daratan terdekat dari pusat gempa. Saat ini, masyarakat di wilayah terdampak tersebut memerlukan perhatian dan dukungan pemulihan yang merata. Menurut penuturan Reynoldus, tingkat kerusakan bangunan di wilayah tersebut memerlukan penanganan yang menyeluruh.
“Jadi, kami daerah episentrum di sini, tetapi penangannya seperti hanya daerah terdampak. Kerusakan banyak, apalagi daerah Mbay. Di sana banyak sekali bangunan yang hancur,” ungkap Reynoldus dengan suara berat.
Menurutnya, dampak kerusakan infrastruktur bangunan dan rumah tinggal di Mbay terpantau sangat masif, termasuk pada fasilitas Pelabuhan Mbay. Sementara untuk wilayah Kecamatan Boawae, kondisi infrastruktur jalan dan bangunan dilaporkan mengalami keretakan struktural.
Warga Membangun Tenda Mandiri

Meningkatnya kebutuhan para penyintas untuk dibantu segera, sementara pasokan bantuan yang datang secara bertahap membuat sebagian besar warga di kawasan Mbay melakukan upaya perlindungan secara mandiri. Para penyintas mendirikan tenda darurat menggunakan terpal di depan halaman rumah atau di area terbuka yang dirasa aman. Sebagian warga lainnya memilih mengungsi ke rumah kerabat yang luput dari kerusakan.
“Penyintas bencana di Mbay saat ini mandiri bikin tenda sendiri, sampai hari ini belum ada penanganan merata dari pemerintah. Bantuan ada datang, tapi hanya di beberapa titik. Jadi warga secara mandiri membuat perlindungan di depan rumah, tempat yang dirasa aman, atau di rumah saudara,” lanjutnya.
Distribusi logistik dari pihak terkait dilaporkan baru menjangkau beberapa titik formal. Di tengah keterbatasan ini, para korban berikhtiar secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan harian mereka.
“Untuk bantuan, mereka terpaksa mengambil sendiri ke titik-titik tertentu,” tambah Reynoldus menjelaskan situasi distribusi di lapangan.
Pemutakhiran Data Korban Jiwa dan Kerusakan BNPB
Sejalan dengan kesaksian warga di lapangan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis pemutakhiran data kumulatif yang mencatat lonjakan dampak kerusakan di seluruh wilayah terdampak.
Berdasarkan rilis resmi BNPB jumlah korban meninggal dunia yang teridentifikasi kini telah mencapai 53 jiwa. Sebaran korban tersebut berada di Kabupaten Manggarai sebanyak 25 orang, Manggarai Timur 20 orang, Sikka 4 orang, Ende 2 orang, Manggarai Barat 1 orang, dan Nagekeo 1 orang. Selain itu, petugas gabungan mencatat total korban luka-luka menyentuh angka 137 jiwa.
Khusus di Kabupaten Nagekeo, tercatat satu korban jiwa lansia di Kecamatan Boawae yang meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan bangunan saat berusaha menyelamatkan diri.
“Saat gempa terjadi, beliau panik lalu berlari masuk ke dalam bangunan karena minimnya antisipasi,” jelas Reynoldus.
”Jenazah korban lansia tersebut kini sudah dimakamkan oleh pihak keluarga setelah sebelumnya menunggu kedatangan anak-anaknya yang bekerja di Malaysia dan Jakarta untuk tiba di rumah duka,” tambahnya.
Berdasarkan data sementara BNPB pada Minggu sore, tercatat pula kerusakan infrastruktur rumah tinggal yang mencakup 154 unit rumah rusak berat, 49 unit rusak sedang, dan 38 unit rusak ringan. Pendataan pengungsi juga terus berjalan dengan rincian sementara 5.488 jiwa mengungsi secara terpusat dan 171 jiwa lainnya memilih mengungsi secara mandiri.
Pemulihan Utilitas dan Kebutuhan Darurat
Kondisi jaringan utilitas di wilayah Nagekeo saat ini dilaporkan sudah mulai pulih kembali. Aliran listrik dan jaringan komunikasi yang sempat terputus pascagejala gempa utama kini sudah berfungsi normal.
“Listrik sudah pulih, saat gempa sempat mati seharian. Komunikasi juga sudah pulih,” pungkas Reynaldus di akhir pembicaraan telepon.
Berdasarkan hasil asesmen langsung terhadap para penyintas yang bertahan di tenda-tenda darurat mandiri, kebutuhan krusial yang mendesak untuk segera disalurkan meliputi bahan makanan pokok, makanan siap saji, serta pasokan air bersih untuk konsumsi dan sanitasi harian.
Tim gabungan saat ini masih terus melakukan pendataan, sementara warga di wilayah terdampak diimbau untuk tetap tenang namun waspada menghadapi potensi gempa susulan yang masih terjadi. (sbn)
Ingin membaca berita selengkapnya?
Baca Lebih Lanjut